Pengantar


Jurnal

Mengatasi Diskriminasi Gender

bagi Tenaga Kesehatan Perempuan

Gender Equality 292x254

Dari perspektif gender, profesi kesehatan di Indonesia sudah didominasi perempuan. Artinya, dari aspek kuantitas, tidak ada lagi masalah diskriminasi gender bagi perempuan (Catatan: belakangan malah muncul wacana untuk membatasi jumlah calon mahasiswa perempuan sekaligus memberikan porsi lebih banyak kepada calon mahasiswa laki-laki. Alasannya, ada kendala tersendiri untuk menempatkan tenaga kesehatan perempuan di daerah-daerah terpencil).

Dari aspek lain, berdasarkan studi literatur di berbagai negara di 5 benua, ternyata tenaga kesehatan perempuan mengalami bentuk diskriminasi lain seperti gangguan seksual; tidak mendapatkan cuti yang memadai saat kehamilan, partus, dan mengasuh bayi; serta terbatasnya kesempatan untuk peningkatan karier. Berdasarkan hasil kajian tersebut, Newman et al (2016) dalam artikel ini mengusulkan suatu integrasi gender-transformative ke dalam Pendidikan Profesional Kesehatan untuk mengatasi masalah tersebut.

Studi ini tidak secara khusus menyebutkan Indonesia. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan hal yang sama juga terjadi di negara kita. Untuk itu kita perlu mengambil pelajaran dari studi ini, dan megambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut dalm konteks Indonesia.

Selengkapnya dapat disimak di sini.

*Sumber foto: http://www.mentalhealthequalities.org.uk/


Jurnal

Model Simulasi Perencanaan Kebutuhan Dokter:

Belajar dari Australia

vaccine map australiaBaru saja di negara kita terjadi kontroversi tentang penambahan fakultas kedokteran baru. Ada yang mengaitkannya dengan mutu pendidikan; ada juga yang mengaitkannya dengan masalah kecukupan jumlah dokter yang ada. Argumentasi terakhir ini berangkat dari perhitungan rasio. Dari sisi rasio, rasio dokter di Indonesia saat ini sudah melebihi standar WHO. Bagi mereka yang tidak setuju dengan perhitungan rasio berpendapat bahwa rasio tidak bisa diterapkan di daerah yang jarang penduduknya atau wilayahnya sangat luas.

Isu bagaimana menghitung kebutuhan tenaga dokter seolah tidak pernah ada habisnya. Banyak metode yang bisa digunakan. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Dalam konteks demikian, Laurence dan Karnon (2016) mengajukan model lain yang diteliti di Australia. Model ini mencoba memperhitungkan transisi pekerjaan, kebutuhan kesehatan, dan pemanfaatan pelayanan. Model ini menjadi lebih kompleks tetapi menurut Laurence dan Karnon lebih tepat, setidaknya untuk konteks Australia.

Apakah mungkin kita bisa mereplikasi model perencanaan tenaga kesehatan ini di Indonesia? Mungkin kita perlu mencermati dulu studi Laurence dan Karnon ini.

Selengkapnya dapat disimak di sini.

*Sumber foto: http://yellowfever.com.au/


Berita Nasional

Pemkot Depok Bentuk Tim Penindakan Pelanggar Perda Rokok

WARTA KOTA, DEPOK - Untuk menajamkan penerapan Perda Kota Depok Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Depok yang masih lemah, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok saat ini tengah menggodok pembentukan tim pengawas untuk penindakan kepada para pelanggar perda tersebut.

Read more ...

Berita Internasional

Integrative Model is Advised for Cancer Control in Primary Care

(HealthDay)—An integrative model incorporating cancer care into primary care is recommended for addressing the increasing burden of cancer control, according to a commission piece published online Sept. 29 in The Lancet Oncology.

Read more ...